EMPAT NELAYAN RI DIPULANGKAN KE TANAH AIR JUMAT
Jakarta (ANTARA) - Empat nelayan Indonesia yang berada di tahanan Reman, Johor Bahru, telah diserahkan kepada Konjen RI hari Jumat untuk dipulangkan kembali ke tanah air.
Berdasarkan keterangan tertulis dari Kementrian Luar Negeri yang diterima, Jumat, keempat nelayan itu adalah Che Rin (51), Lau Tin Guan (58), Ee Ang (50) dan Adi (35).
Keempat nelayan itu direncanakan akan diantar Pejabat KJRI Johor Bahru ke pelabuhan Kukup di Pontiam (sekitar 80 km dari Johor Bahru) hari ini sekitar pukul 14.00 (waktu Malaysia) atau 13.00 (WIB).
Dari pelabuhan Kukup, keempat nelayan tersebut akan diberangkatkan dengan ferry ke pelabuhan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
Berdasarkan hasil analisa terhadap fakta awal insiden karamnya kapal nelayan Indonesia, lokasi kejadian terjadi di wilayah perairan Malaysia.
Menurut informasi yang diperoleh dari Konjen RI, kondisi keempat nelayan tersebut dalam keadaan baik.
"Dalam pengakuannya, mereka tidak ditangkap tapi ditolong pihak kepolisian Johor dan dititipkan di Balai Polisi Air Molek Johor dan besok. Setelah proses adminstrasi selesai sudah bisa kembali ke Indonesia" kata Konsulat Jendral Indonesia di Johor Baru, Jonas L Tobing.
Sebelumnya, diberitakan bahwa kapal nelayan tersebut ditabrak kapal polisi air Malaysia hingga hancur. Koordinat terjadinya insiden sendiri belum diketahui karena kapal tersebut tidak memiliki sistem navigasi.
Sementara Komandan Pangkapalan TNI Angkatan Laut Tanjung Balai Karimun, Letkol (P) Fauzi melalui Perwira Seksi Intelijen, Kapten (P) Joko Santoso mengatakan, kapal nelayan 4 GT asal Sungai Pasir, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Riau itu menerobos perairan Malaysia.
"GPS KM Sunjaya yang membantu menarik kapal kembali ke Sungai Pasir. Awalnya mereka berada pada koordinat 1 19 838 Utara-103 04 200 Timur," katanya.
Tempat kejadian perkara (TKP) berada pada koordinat 1 23 942 Utara- 103 07 200 Timur, tambahnya di Markas Komando Pangkalan TNI Angkatan Laut Tanjung Balai Karimun. Kepulauan Riau.
Pada koordinat pertama yang disebutkannya berdasarkan peta terbitan Badan Hidro Oseonografi No.13/2009, posisi nelayan itu berada sekitar 1 mil di perairan Malaysia.
Kemudian pada koordinat kedua TKP nya berada sekitar 5 mil di perairan Malaysia dan pada koordinat ketiga 1 22 946 setelah kejadian para nelayan kembali perairan Indonesia.
Dia berharap, dinas berwenang mensosialisasikan dengan baik tentang batas wilayah negara pada nelayan, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang di masa mendatang, ujarnya.
Jumat, 08 Oktober 2010
Semburan Baru Lumpur Lapindo Terbakar
Sidoarjo (ANTARA) - Semburan baru lumpur Lapindo yang ada di belakang Pos Pantau Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) terbakar didiuga dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Humas BPLS Achmad Zulkarnaen, Jumat, mengatakan, kebakaran yang ada di semburan baru tersebut merupakan kali kesekian setelah sebelumnya juga terjadi kebakaran semburan baru yang ada di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
"Kebakaran semburan baru ini dikarenakan adanya gas metan yang keluar bersamaan dengan semburan air dan lumpur dari dalam tanah," katanya.
Terkait dengan adanya semburan baru tersebut BPLS tidak melakukan pemadaman karena semburan tersebut lokasinya berada di ruang terbuka.
"Karena lokasinya berada di tempat terbuka, maka kami tidak melakukan pemadaman karena kami menilai kebakaran semburan tersebut tidak berbahaya," katanya.
Namun demikian, dirinya memprediksi semburan tersebut tidak akan berlangasung lama mengingat tekanan gas yang keluar semakin menyusut.
"Meski kami tidak melakukan pemadaman, kami tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi kebakaran semburan tersebut untuk melihat kondisi terbaru," katanya.
Menurutnya, jika memang pada perkembangannya terjadi peningkatan intensitas gas yang keluar, maka BPLS akan melakukan pemadaman.
Ia mencatat semburan baru yang ada di kawasan tersebut merupakan semburan baru yang ke 194 setelah sebelumnya juga ada semburan baru di kawasan Desa Besuki, Kecamatan Jabon.
Banyaknya semburan baru ini, kata dia, disebabkan adanya tekanan gas dan air yang muncul dari dalam tanah.
Selain itu, semburan baru tersebut juga dipengaruhi oleh adanya penurunan tanah yang terjadi di sekitar lokasi pusat semburan.
"Semburan baru yang muncul saat ini sekitar 60 persen di antaranya sudah tidak aktif," katanya.
Ia juga meminta kepada warga masyarakat untuk tidak menyalakan api di sekitar lokasi semburan baru karena masih berpotensi terjadinya kebakaran mengingat gas metan yang keluar masih tinggi.
"Kalau lokasi semburan tersebut berada di daerah terbuka tidak masalah. Namun, kalau lokasinya berada di sekitar pemukiman warga itu yang menjadi soal," katanya.
Menurutnya, semburan baru yang ada di sekitar lokasi pusat semburan ini masih berpotensi terjadinya kebakaran.
Sebelumnya salah satunya semburan gas di kawasan Siring Barat terbakar dan menyebabkan dua orang luka-luka.
Sidoarjo (ANTARA) - Semburan baru lumpur Lapindo yang ada di belakang Pos Pantau Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) terbakar didiuga dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Humas BPLS Achmad Zulkarnaen, Jumat, mengatakan, kebakaran yang ada di semburan baru tersebut merupakan kali kesekian setelah sebelumnya juga terjadi kebakaran semburan baru yang ada di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
"Kebakaran semburan baru ini dikarenakan adanya gas metan yang keluar bersamaan dengan semburan air dan lumpur dari dalam tanah," katanya.
Terkait dengan adanya semburan baru tersebut BPLS tidak melakukan pemadaman karena semburan tersebut lokasinya berada di ruang terbuka.
"Karena lokasinya berada di tempat terbuka, maka kami tidak melakukan pemadaman karena kami menilai kebakaran semburan tersebut tidak berbahaya," katanya.
Namun demikian, dirinya memprediksi semburan tersebut tidak akan berlangasung lama mengingat tekanan gas yang keluar semakin menyusut.
"Meski kami tidak melakukan pemadaman, kami tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi kebakaran semburan tersebut untuk melihat kondisi terbaru," katanya.
Menurutnya, jika memang pada perkembangannya terjadi peningkatan intensitas gas yang keluar, maka BPLS akan melakukan pemadaman.
Ia mencatat semburan baru yang ada di kawasan tersebut merupakan semburan baru yang ke 194 setelah sebelumnya juga ada semburan baru di kawasan Desa Besuki, Kecamatan Jabon.
Banyaknya semburan baru ini, kata dia, disebabkan adanya tekanan gas dan air yang muncul dari dalam tanah.
Selain itu, semburan baru tersebut juga dipengaruhi oleh adanya penurunan tanah yang terjadi di sekitar lokasi pusat semburan.
"Semburan baru yang muncul saat ini sekitar 60 persen di antaranya sudah tidak aktif," katanya.
Ia juga meminta kepada warga masyarakat untuk tidak menyalakan api di sekitar lokasi semburan baru karena masih berpotensi terjadinya kebakaran mengingat gas metan yang keluar masih tinggi.
"Kalau lokasi semburan tersebut berada di daerah terbuka tidak masalah. Namun, kalau lokasinya berada di sekitar pemukiman warga itu yang menjadi soal," katanya.
Menurutnya, semburan baru yang ada di sekitar lokasi pusat semburan ini masih berpotensi terjadinya kebakaran.
Sebelumnya salah satunya semburan gas di kawasan Siring Barat terbakar dan menyebabkan dua orang luka-luka.
Langganan:
Postingan (Atom)